|
|
|
|
Menurut
Tossi, Rizzo dan Carroll (1994: 34), organisasi ialah “...a group of people,
working toward objectives, which develops and maintans relatively stable and
predictable behavior patterns, even thoughthe individuals in the organization
may change. Usuallywe describe organizations in term of how they differ on
three dimensions: complexity, formalization, and centralization.”
Organisasi terdiri dari kelompok
orang-orang, atau dapat dikatakan juga terdiri dari kelompok-kelompok tenaga
kerja (dalam hal organisasi perusahaan) yang bekerja untuk mencapai tujuan
organisasinya. Untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi dikembangkan dan
dipertahankan pola-pola perilaku tertentu yang cukup stabil dan dapat
diperkirakan sebelumnya.( Sarlito, 2001)
Organisasi adalah Unit
sosial yang di koordinasikan secara sadar, terdiri dari sekelompok orang, yang
bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama secara terus menerus. Tiga dimensi dari organisasi ialah:
kemajemukan (complexity), formalisasi (formalization),
dan pemusatan (centralization). (Dalam buku Fundamental of
Organizational behavior edisi ke-3)
a.
Kemajemukan (Complexity)
Dengan kemjemukan diartikan beragamnya kegiatan, fungsi,
pekerjaan dan jumlah lapis organisasi. Dalam organisasi yang lebih majemuk akan
dijumpai masalah-masalah kendali dan koordinasi yang lebih banyak. Makin tinggi
tingkat kedudukannya dalam organisasi makin majemuk dan besar tanggung
jawabnya.
b.
Formalisasi (Formalization)
Formalisasi mengacu pada adanya kebijakan, prosedur, dan
aturan yang membatasi pilihan dari para anggotanya. Para anggotanya/ tenaga
kerjanyadiharapkan berperilaku sesuai dengan kebijakan, prosedur, dan aturan
yang berlaku dan ada. Makin organisasi formalized, makin terbatas
kebebasan anggota untuk mengambil keputusan .
c.
Pemusatan (Centralization)
Pada organisasi besar dan majemuk dua-dua nya dapat terjadi,
yaitu pengambilan keputusan untuk hal-hal tertentu yang berdampak pada seluruh organisasi
berlangsuk di tingkat pimpinan organisasi peusahaan(centralized).
STRUKTUR ORGANISASI
Struktur
organisasi merupakan pola formal kegiatan dan hubungan timbal balik antar
sub-unit organisasi. 2 Aspek penting organisasi: Desain Pekerjaan dan Desain
Organisasi. (Gibson, J.
L. Ivanchevic, J. M. et al, 2009)
Tiga
rancangan (design) organisasi yang umum, yaitu rancangan organisasi
dengan struktur sederhana, rancangan organisasi birokrasi, dan organisasi
dengan struktur matriks.
1.
Rancangan Organisasi
Dengan struktur yang sederhana ditandai dengan departmentalization
yang sedikit, span of control yang lebar, kewenangan dipegang
terpusat pada satu orang, dan formalisasi sedikit. Rancangan ini biasanya dapat
ditemukan pada pemilik organisasi usaha yang kecil, dimana pimpinannya juga
menjadi pemilik. Misalnya pedagang-pedagang batik, usaha menjadhit pakaian,
laundry.
2.
Birokrasi
Adalah suatu struktur dengan tugas-tugas yang beroperasi
sabgat rutinn yang dicapai melalui spesialisasi. Tugas-tugas dikelompokkan
dalam bagian fungsional tertentu, kewenangannya terpusat, span of control
yang sempit, proses pengambilan keputusan mengikuti rantai komando.
3.
Struktur Matriks
Pada struktur matriks, setiap bawahan memiliki dua atasan.
Matriks mengkombinasikan dua bentuk departementalisasi, yaitu fungsional dan
produk. Strukturmatriks dapat ditemukan dalma organisasi-organisasi periklanan,
perguruan tinggi, rumah sakit, dan sebagainya. Kekuatan dari matriks terletak
pada kemampuannya untuk melancarkan koordinasi jika organisasi memiliki
kegiatan-kegiatan majemuk yang banyak dan yang saling bergantung. Kelemahan
utama dari organisasi berbentuk matriks terletak pada kebingungan yang
diciptakan.
JENIS-JENIS
ORGANISASI
Tosi,
Rizzo, Carroll membedkan empat jenis generic organisasi, yatiu:
a.
Organisasi Mekanistik (OM)
Satu organisais yang formasinya tinggi. Ciri-cirinya:
kerja yang berulang-ulang, pembagian kerja yang ketat (high division of
labor), tingkat keterampilan rendah, pekerjaan terumuskan dengan jelas dan
baik, saluran distribusi yang terpatok (fixed), sumber supply
yang jelas dan mantap, sistem yang sederhana, sumber informasi yang baik dan
lengkap, perangkat peraturan untuk menafsirkan lingkungan, anggaran yang di
standarisasi, data tentang standard an biaya yang lampau, pengambilan keputusan
secara terpusat, tata tingkat yang kaku, konflik antara eselon tinggi dan
rendah.
b.
Organsisasi Organik (OO)
Formalisasi
di bidang pemasaran tinggi, di bidang teknologi rendah.ciri-cirinya antaralain;
teknologi yang intensif dan mediating, staf yang terampil,
saluran-saluran pemasaran yang terpatok, R&D yang luas dan sangat
berpenagruh, kendali dalam fungsi-fungsi teknikal disentralisasi, kendali
bertata tingkat dalam pemasaran, interest management problems.
c.
Organisasi Campuran Dominanst pasar
(OCDP)
Formalisasi
di bidang teknologi tinggi, di bidang pemasaran rendah. Ciri-cirinya antara
lain; teknologi dengan jaringan panjang dan/ataurepentitif, salura-saluran
distribusi dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ‘gaya’ lebih menjadi promoters
daripada sales persons, R&D sedikit, pemasran berpengaruh
besar, biaya baku dalam bidang teknikal dan produksi, kendali yang
disentralisasi dalam fungsi pemasaran, kendali yang disentralisasi dalam
bidang-bidang lain, interest management problems.
PENGEMBANGAN
ORGANISASI
Pengembangan irganisasi dirumuskan
dalam berbagai cara. Definisi yang paling sering dikutip ialah bahwa PO adalah
satu upaya yang (1) yang direncanakan, (2) yang dampaknya mencakup seluruh
organisasi, dan (3) yang dimanajemeni oelh puncak, untuk (4) meningkatkakn
efektivitas dan kesehatan organisasi melalui (5) intervensi-intervensi yang
direncanakan dalam proses-proses organisasi dengan menggunakan pengetahuan keprilakuan
(Beckhard, 1969:9).
Bennis,
dari sudut pandang McGill, berbicara tentang “kesehatan” organisasi dan
menetapkan kriteriea dari kesehatan sebagia berikut
1.
Kemampuan menyesuaikan diri
2.
Satu rasas identitas
3.
Kemampuan untuk menguji kenyataan
4.
Pemaduan (intergration)
BUDAYA
ORGANISASI
Budaya organisasi terdiri dari asumsi-asumsi dasar yang
dipelajari baik sebagai hasil memecahkan masalah yang timbul dalam proses
penyesuaian dengan lingkungannya,maupun sebagai hasil memecahkan maslah yang
timbul dari dalam organisasi, antar unit-unit organisasi yang berkaitan dengan
integrasi. Budaya timbul sebagai hasil belajar bersama dari para anggota
organisasi agar dapat tetap bertahan.
Budaya organisasi dapat berubah, yaitu bila asumsi dasar
yang digunakan dalam memecahkan masalah (eksternal maupun internal) ternyata
tidak absah dan perlu diganti dengan asumsi dasar lain. Schein selanjutnya
membedakan budaya organisasi kedalam tiga tangka. Tingkat pertama ialah
tingkat ‘perilaku dan artifact’, tingkatan ini adalah tingkatan yang
dapat diamati. Nilai-nilai merupakan tingkat kedua dari budaya
perusahaan, tingkat ini tidak dapat terlihat. Tingkat yang ketiga
adalah tingkat yang paling dalam, yang mendasari nilai-nilai, yaitu tingkat
keyakinan (beliefs), yang terdiri dair berbagai asumsi dasar.
| Where an Organization’s Culture Comes From |
1.
Organizational Ethics
Adalah Nilai-nilai moral, kepercayaan, dan aturan yang
menetapkan cara yang tepat bagi organisasi dan anggotanya untuk saling
berhubungan dan dengan orang-orang di luar organisasi
2.
Characteristics People Of Within Organization
Sumber
utama budaya organisasi adalah orang-orang yang membentuk organisasi
3.
The Nature Of Employment Relationship
Faktor
ketiga yang membentuk budaya organisasi adalah sifat hubungan kerja yang
dibangun perusahaan dengan karyawannya melalui kebijakan dan praktik sumber
daya manusianya.
4.
Design Of Organizational Structure
struktur
organisasi adalah sistem formal tugas dan hubungan pelaporan yang dirancang
untuk mengoordinasikan dan memotivasi karyawan dengan cara yang paling efektif.
Namun, berbagai jenis struktur menimbulkan berbagai jenis budaya yang merupakan
satu lagi alasan bahwa manajer harus memberi perhatian besar pada desain
organisasi
4
budaya organisasi
·
Bureaucratic Culture
Budaya
Birokrasi Suatu organisasi yang menekankan aturan, kebijakan, prosedur, rantai
komando, dan pengambilan keputusan yang tersentralisasi memiliki budaya
birokrasi
·
Budaya Klan
Menjadi
bagian dari keluarga yang bekerja, mengikuti tradisi dan ritual, kerja tim,
semangat, pengelolaan diri, dan pengaruh sosial adalah karakteristik budaya
klan.
·
Entrepreneurial Culture
Budaya
Wirausaha Inovasi, kreativitas, pengambilan risiko, dan mencari peluang secara
agresif menggambarkan budaya kewirausahaan.
·
Market
Culture
Menekankan
pada pertumbuhan penjualan, peningkatan pangsa pasar, stabilitas keuangan, dan
profitabilitas.Karyawan bekerja sama dan bekerja bersama untuk mencapai
pangsa pasar dan sasaran kinerja keuangan.
How Making Employees Owners Can
Change Organizational Cultures
Bimba Manufacturing Company, yang berbasis di Monee,
Illinois, memproduksi silinder aluminium. Pemiliknya, Charles Bimba, memutuskan
untuk menjual perusahaan kepada karyawannya dengan membuat rencana kepemilikan
saham karyawan (ESOP). Dia menyimpan 10% saham. 90% lainnya dijual kepada
karyawan yang membayar saham dengan uang dalam rencana pembagian keuntungan
yang sudah ada, dan sisanya dipinjam dari bank.52 Perubahan di perusahaan sejak
ESOP diperkenalkan sangat dramatis, dan caranya tenaga kerja menanggapi
manajemen perusahaan telah berubah total. Sebelumnya, perusahaan memiliki dua
kelompok karyawan: manajer yang membuat peraturan dan pekerja yang
menjalankannya. Pekerja jarang membuat saran dan umumnya hanya mengikuti
pesanan. Tetapi setelah perubahan dalam sistem penghargaan, tim lintas fungsi
yang terdiri dari manajer dan pekerja bertemu secara teratur untuk membahas
masalah dan menemukan cara baru untuk meningkatkan kualitas produk. Tim-tim ini
juga bertemu secara teratur dengan pelanggan untuk membahas bagaimana produk
baru dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan lebih baik. Karena insentif yang
diberikan oleh ESOP baru, manajemen dan pekerja telah mengembangkan hubungan
kerja baru berdasarkan kerja tim untuk mencapai keunggulan dan kualitas tinggi.
Setiap tim mempekerjakan anggotanya sendiri dan menghabiskan banyak waktu
membantu karyawan baru mempelajari nilai-nilai dan norma-norma Bimba. Semangat
kooperatif yang telah muncul di perusahaan berarti bahwa manajer sekarang
mendengarkan pekerja mereka yang diberdayakan dan bertindak sebagai penasihat
daripada atasan. Semua orang bekerja sama untuk menemukan cara untuk
meningkatkan kinerja — dan mereka diberi imbalan karena melakukannya. Sejauh
ini, mengubah sistem hak properti perusahaan telah membuahkan hasil.
Penjualannya berlipat ganda, dan Bimba telah berkembang ke pabrik baru yang lebih
besar dan membuka pabrik di Eropa dan Asia. Lebih jauh lagi, pekerja telah
melunasi seluruh pinjaman yang mereka ambil untuk membiayai pembelian saham
karyawan.53 Dengan kata seorang pekerja, ESOP menyebabkan “perubahan besar
dalam cara kita memandang pekerjaan kita
DAFTAR
PUSTAKA
·
Munandar, A. S. 2001. Psikologi
Industri dan Organisasi. Jakarta: UI-Press.
·
Gibson, J. L. Ivanchevic, J. M. Jr,
James. H. D., & Konopaske Robert. "Organizations: Behavior, Structure,
and Processes fourteenth editions". (New York: McGraw-Hill/Irwin, 2009)
·
Goerge.M. J & Jones.R.G.
“Understanding and Managing Organizational Behavior sixth edition”
(Pearson;2012)
·
Langton, N. Robbins, P. Stephen. “Fundamental
of Organizational behavior 3rd”